Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Mu'tazilah ke Ahlussunnah Wal-Jama'ah

Dari Mu'tazilah ke Ahlussunnah Wal-Jama'ah 


Dari Mu'tazilah ke Ahlussunnah Wal-Jama'ah 

Al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari mengikuti aliran Mu'tazilah hingga berusia 40 tahun. Namun kemudian setelah sekian lama menjadi tokoh Mu'tazilah dan tidak jarang mewakili gurunya Abu Ali al-Jubba'i dalam forum-forum perdebatan, akhirnya al-Asy'ari keluar dari aliran Mu'tazilah dan kembali kepada ajaran Ahlussunnah Wal-Jama'ah. Pertanyaan yang patut dikemukakan di sini adalah, apakah latar belakang keluarnya al-Asy'ari dari Mu'tazilah dan kembali kepada Ahlussunnah Wal Jama'ah?

Menurut data sejarah yang disampaikan oleh para ulama, seperti al-Hafizh Ibn 'Asakir al-Dimasyqi, Syamsuddin Ibn Khallikan, al Imam Tajuddin al-Subki dan lain-lain, setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi perpindahan al-Asy'ari dari Mu'tazilah ke Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Pertama, ketidakpuasan al-Asy'ari terhadap ideologi Mutazilah yang selalu mendahulukan akal tetapi tidak jarang menemukan jalan buntu dan mudah dipatahkan dengan argumentasi akal yang sama. Ketidakpuasan al-Asy'ari tersebut dapat dilihat dengan memperhatikan beberapa hal, antara lain riwayat yang menyatakan bahwa, sebelum al-Asy'ari keluar dari aliran Mu'tazilah, dia tidak keluar rumah selama lima belas hari. Kemudian pada hari Jum'at setelahnya, dia keluar ke Masjid Jami' dan menaiki mimbar dengan berpidato: "Sebenarnya saya telah menghilang dari kalian selama lima belas hari ini. Selama itu saya meneliti dalil-dalil semua ajaran yang ada. Ternyata saya tidak menemukan jalan keluar. Dalil yang satu tidak lebih kuat dari pada dalil yang lain. Lalu aku memohon petunjuk kepada Allah, dan temyata Allah memberikan petunjuk-Nya kepadaku untuk meyakini apa yang saya tulis dalam beberapa kitab ini. Mulai saat ini, aku mencabut semua ajaran yang selama ini aku yakini." Kemudian al Asy'ari menyerahkan beberapa kitab yang ditulisnya sesuai dengan madzhab Ahlussunnah Wal-Jama'ah kepada orang-orang di sana. Di antaranya adalah kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala Ahl al-Zaygh wa al Bida, kitab yang memaparkan kerancuan Mu'tazilah yang berjudul Kasyf al-Astar wa Hatk al-Asrar, dan kitab-kitab lain. Setelah kitab-kitab tersebut dibaca oleh kalangan ahli hadits dan fuqaha dari golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah, mereka mengambil isinya, mengadopsinya, meyakini kehebatan al-Asy'ari dan menjadikannya sebagai panutan

Ketidakpuasan al-Asy'ari dengan faham Mu'tazilah tersebut dapat pula dilihat dengan memperhatikan riwayat lain yang mengisahkan perdebatannya dengan Abu Ali al-Jubba'i, gurunya. Suatu ketika al Asy'ari berdialog dengan al-Jubba'i,

Al-Asy'ari, "Bagaimana pendapatmu tentang nasib tiga orang yang meninggal dunia, satunya orang mukmin, satunya orang kafir dan yang satunya lagi anak kecil?"

Al-Jubba'i, "Orang mukmin akan memperoleh derajat tinggi, orang kafir akan celaka dan anak kecil akan selamat." yang

Al-Asy'ari, "Mungkinkah anak kecil tersebut meminta derajat yang tinggi kepada Allah?" 

Al-Jubba'i, "Oh, tidak mungkin, karena Allah akan berkata kepada anak itu, "Orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. Jadi kamu tidak bisa memperoleh derajat itu."

Al-Asy'ari, "Bagaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dengan berkata, "Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal seperti orang mukmin itu."

Al-Jubba'i, "Oh, tidak bisa, Allah akan menjawab, "Oh, bukan begitu, justru Aku telah mengetahui, bahwa apabila kamu diberikan umur panjang, maka kamu akan durhaka, sehingga nantinya kamu akan disiksa. Oleh karena itu, demi menjaga masa depanmu, aku matikan kamu sewaktu masih kecil, sebelum kamu menginjak usia taklif."

Al-Asy'ari, "Bagaimana seandainya orang kafir itu menggugat kepada Allah dengan berkata, "Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga masa depanku. Tetapi mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, dengan mematikan aku sewaktu masih kecil dulu, sehingga aku tergolong orang yang selamat seperti anak kecil itu, dan mengapa Engkau biarkan aku hidup hingga dewasa sehingga aku menjadi orang kafir dan akhimya aku disiksa seperti sekarang ini?"

Mendengar pertanyaan al-Asy'ari ini, al-Jubba'i menghadapi jalan buntu dan tidak mampu memberikan jawaban. Al-Jubba'i hanya berkata: "Kamu hanya bermaksud merusak keyakinan yang telah ada."

Al-Asy'ari, "Aku tidak bermaksud merusak keyakinan yang selama ini Anda yakini. Akan tetapi, Guru tidak mampu menjawab pertanyaanku."

Kedua, bermimpi bertemu Nabi. Suatu ketika, pada permulaan bulan Ramadhan, al-Asy'ari tidur dan bermimpi bertemu Nabi Beliau berkata: "Wahai Ali, tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar." Setelah terbangun, al-Asy'ari merasakan mimpi itu sangat berat dalam pikirannya. Dia terus memikirkan apa yang dialaminya dalam mimpi. Pada pertengahan bulan Ramadhan, dia bermimpi lagi bertemu Nabi, dan beliau berkata: "Apa yang kamu lakukan dengan perintahku dulu?" Al-Asy'ari menjawab: "Aku telah memberikan pengertian yang benar terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan darimu." Nabi berkata: "Tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar." Setelah terbangun dari tidurnya, al-Asy'ari merasa sangat terbebani dengan mimpi itu. Sehingga dia bermaksud meninggalkan ilmu kalam. Dia akan mengikuti hadits dan terus membaca al-Qur'an. Tetapi, pada malam 27 Ramadhan, tidak seperti biasanya, rasa kantuk yang begitu hebat menyerangnya, sehingga dia pun tertidur dengan rasa kesal dalam hatinya, karena telah meninggalkan kebiasaannya tidak tidur malam untuk beribadah kepada Allah. Dalam tidur itu ia bermimpi bertemu Nabi untuk ketiga kalinya. Nabi berkata: "Apa yang kamu lakukan dengan perintahku dulu?" Ia menjawab: "Aku telah meninggalkan ilmu kalam, dan aku konsentrasi menekuni al Qur'an dan hadits." Nabi berkata: "Aku tidak menyuruhmu meninggalkan ilmu kalam. Tetapi aku hanya memerintahmu menolong pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku, karena itu yang benar." la menjawab: "Wahai Rasulullah, bagaimana aku mampu meninggalkan madzhab yang telah aku ketahui masalah-masalah dan dalil-dalilnya sejak tiga puluh tahun yang lalu hanya karena mimpi?" Nabi berkata: "Andaikan aku tidak tahu bahwa Allah akan menolongmu dengan pertolongan-Nya, tentu aku menjelaskan kepadamu semua jawaban masalah-masalah (ajaran Mu'tarilah) itu. Bersungguh-sungguhlah kamu dalam masalah ini, Allah akan menolongmu dengan pertolongan-Nya. "Setelah bangun dari tidurnya, al-Asy'ari berkata: "Selain kebenaran pasti hanya kesesatan." Lalu dia mulai membela hadits-hadits berkaitan yang dengan ru'yah (melihat Allah di akhirat), syafa'at dan lan-lain. Ternyata setelah itu, al-Asy'ari mampu memaparkan kajian-kajian dan dalil dalil yang belum pernah dipelajarinya dari seorang guru, tidak dapat dibantah oleh lawan dan belum pernah dibacanya dalam suatu kitab."

Post a Comment for "Dari Mu'tazilah ke Ahlussunnah Wal-Jama'ah "