Lebih Indah Tanpa Sekolah
Masyarakat menaruh harapan yang besar pada lembaga agung bernama Msekolah. Hingga pada akhirnya mereka rela melakukan apa saja demi berhasil menikmati indahnya bangku sekolah. Sekolah memang menjanjikan banyak hal: kepandaian, kecerdasan, kesuksesan, kenikmatan, kemajuan, dan lainnya. Sekolah dipandang sebagai makhluk serba bisa yang mampu mengubah keadaan seseorang, dan bahkan mengubah dunia. Singkatnya, dengan bersekolah, semua beban hidup seolah-olah dapat dikurangi.
Orang-orang miskin berupaya keras agar anak-anak mereka dapat bersekolah agar kelak kehidupan mereka tidak kembali jatuh ke lubang kemiskinan seperti nasib orang tuanya. Sekolah dianggap sebagai dewa yang mampu mengeluarkan seseorang dari lubang kemiskinan. Namun ternyata semua itu hanyalah mitos; yang terjadi adalah sebaliknya. Sekolah justru menjadi makhluk yang melebarkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Mereka semakin jauh terpisah akibat ulah segelintir orang yang meraup keuntungan dari sekolah ini. Alih-alih ingin lepas dari jeratan kemiskinan, orang-orang miskin malah terjerumus ke lubang kemiskinan yang semakin dalam.
Entah, apa sebenarnya yang terjadi di sekolah. Bagaimana sekolah. memperlakukan orang-orang miskin? Benarkah sekolah telah memperlakukan si kaya dan si miskin secara adil? Benarkah di sekolah anak-anak diajarkan tentang kesetaraan, keseragaman, dan keberagaman agar mereka dapat saling menghargai satu sama lain? Apakah anak-anak kita merasa nyaman di sekolah karena mereka bebas bergerak mengembangkan bakat dan kemampuannya? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal di benak sebagian besar pelaku pendidikan, sekaligus menjadi PR besar bagi kita semua.
Sekolah di Tanah Air masih menjadi tempat eksklusif yang hanya dapat dinikmati golongan orang-orang kaya saja. Meskipun orang miskin diberikan kesempatan untuk menikmati ruang eksklusif tersebut, namun di dalamnya mereka hanya menjadi objek penindasan. Mereka menjadi tontonan orang orang kaya. Budaya mereka hanya menjadi bahan tertawaan orang-orang kaya karena dianggap lucu, kotor, jorok, kasar, dan aneh. Ini karena pada prinsipnya sekolah tetap dikuasai orang-orang kaya. Di sekolah, orang miskin dibuat tidak nyaman.
Orang kaya menggunakan sekolah untuk mempertahankan posisinya. Mereka tidak ingin apabila orang-orang miskin berhasil menyamai kedudukannya. Ini adalah tesis Bourdieu yang mengkritik praktik dominasi pendidikan oleh orang-orang kaya. Orang kaya seolah tidak rela bila posisinya diganti orang-orang miskin karena orang miskin berhasil "mencuri modal sosial" mereka. Orang kaya merasa terancam bila orang miskin semakin pintar dan cerdas.
Ini semakin jelas menunjukkan bahwa sekolah telah gagal mewujudkan impiannya menjadi dewa penolong yang akan mengentaskan orang miskin dari kemiskinannya. Karena yang terjadi adalah sebaliknya, sang dewa tak kuasa menahan penindasan para kapitalis yang berkeliaran memanfaatkan sekolah untuk kepentingan mereka.
Di sekolah, anak-anak hanya menjadi objek kepentingan kapitalis Mereka dipaksa mempelajari sesuatu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Mereka dipaksa mencapai standar-standar tertentu agar dapat terus menikmati "indahnya dunia sekolah. Mereka dibebani dengan serangkaian aturan yang tidak masuk akal: ke sekolah harus berseragam, warna sepatu harus hitam. rambut tidak boleh melebihi ukuran tertentu. panjang rok harus sekian centimeter, dan segudang aturan lain.
Sekolah bagaikan penjara yang membuat para penghuninya semakin ingin cepat keluar. Mengapa? Tentu saja karena anak-anak merasa dikekang setiap hari. Mereka tidak diberi ruang untuk menyalurkan bakat dan kemampuannya. Kalaupun ada ruang, ruang tersebut hanyalah pelengkap saja. Anak yang suka menyanyi, diberi ruang untuk mengembangkan bakat menyanyinya. Namun sekali lagi, itu hanyalah formalitas saja. Yang selalu terjadi adalah anak selalu dipaksa belajar matematika, fisika, biologi, dan sejuta mata pelajaran lain yang memuakkan. Meskipun anak pandai menyanyi, pandai menggambar, pandai menari, itu bukanlah tanda-tanda murid pandai. Maka, jangan salahkan mereka bila mereka tidak betah berlama-lama di sekolah, dan ingin segera kabur dari sekolah untuk melampiaskan kekecewaannya. Membolos, tawuran, sebenarnya adalah wujud pelampiasan kekecewaan mereka. Mereka butuh penghargaan, bukan hanya sebatas ijasah yang hanya menjadi simbol kelulusan belaka.
Sepulang sekolah, anak-anak kembali menjadi mangsa kapitalis yang menawarkan jasa pelajaran tambahan. Jalan cerita ini semakin menyedihkan ketika pihak yang mewajibkan pelajaran tambahan justru adalah guru-guru mereka yang juga mengajar mereka di sekolah. Parahnya, kewajiban mengikuti "jam tambahan" ini juga dialami sebagian anak usia TK. Mereka secara halus diwajibkan mengikuti les membaca, menulis, dan menghitung. Mereka terpaksa melakukan itu karena guru-guru SD semakin malas mengenalkan huruf ABCD kepada murid-murid baru kelas 1. Mereka hanya mau menerima anak-anak yang sudah pandai membaca dan menulis. Inikah yang dinamakan guru profesional? Anak-anak TK belajar membaca dan menulis, mungkin hanya a di Tanah Air tercinta. Di toko-toko buku juga mulai bertebaran buku tentang "kiat-kiat lolos tes masuk SD". Masuk SD saja sekarang menggunakan tes. Apa-apaan ini?
Penderitaan anak-anak tidak berhenti sampai di situ. Para orang tua juga sering kali egois. Mereka memaksa anak-anaknya belajar bahasa asing hanya demi meraih gengsi orang tua. Mereka bangga bila anak-anak mereka bisa berhasa asing meskipun usianya masih tiga tahun atau lima tahun. Mereka pun dengan bangga memamerkan "kecerdasan" anak-anaknya.
Bahkan banyak di antara anak-anak tersebut yang harus kehilangan waktu bermainnya karena harus mengikuti jam tambahan sampai larut malam. Ini hanya akan menghasilkan anak-anak "asosial", karena mereka lebih banyak memikirkan diri sendiri, tidak pernah mengalami pengalaman sosial secara nyata. Di kepala mereka hanya ada belajar, belajar, dan belajar.
Di pihak lain, guru juga mengalami nasib yang sama. Bila bukan karena tuntutan nomi, sedikit sekali orang yang mau menjadi guru. Sedikit sekali orang yang memang berniat dan bercita-cita menjadi guru. Akibatnya, sedikit guru yang menikmati "profesinya" sebagai guru; sedikit guru yang masih memiliki idealisme. Gaji yang rendah sering menjadi alasan ketidakprofesionalan mereka. Namun ketika gaji mereka dinaikkan, tidak sedikit pula guru yang tetap bermalas-malasan.
Pemerintah seolah tidak kuasa dan tidak punya mekanisme yang jitu untuk mengontrol kinerja para guru di Tanah Air. Guru malas, guru rajin, guru produktif adalah sama di mata pemerintah. Akibatnya, kecemburuan sosial di antara sesama guru semakin menguat di akar rumput. Konflik horizontal di antara mereka berpotensi menimbulkan ledakan di kemudian hari bila pemerintah tidak segera mengambil tindakan. Pemerintah seolah tidak tahu menahu mengenai konflik ini. Mereka merasa telah memberikan penghargaan kepada guru sesuai dengan haknya. Dan mereka merasa telah melakukan tugasnya, mengontrol kinerja guru dengan alat ukur yang valid.
Di tempat lain, guru honorer dan guru swasta diperlakukan berbeda dengan guru PNS, padahal tugas dan fungsi pokok mereka adalah sama. Bahkan gaji yang satu sangat tidak layak. Masalah guru, sekali lagi, menjadi bumerang bagi sistem pendidikan Tanah Air. Masalah ini ternyata bukan hanya masalah gaji atau kesejahteraan, melainkan juga masalah mentalitas dan kualitas.
LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) yang diberi mandat mencetak calon guru berkualitas tinggi, juga kehilangan idealismenya ketika mereka dihinggapi virus persaingan antar-LPTK. Akhir-akhir ini, LPTK juga kebanjiran peminat, dan parahnya, LPTK tidak punya mekanisme untuk menyeleksi calon mahasiswanya.
Di sisi lain, LPTK merasa menjadi lembaga yang paling berhak mencetak tenaga guru, sehingga ketika pemerintah tetap mewajibkan sarjana pendidikan mengikuti PPG, sebagian dari mereka pun protes. Mereka tidak rela ketika lulusan mereka disamakan dengan lulusan non-LPTK yang sama-sama punya hak untuk menjadi guru. Mereka mengklaim kualitas guru yang paling baik adalah guru lulusan LPTK. Padahal dalam kenyataanya tidaklah demikian.
Sekolah memang mengundang banyak masalah. Untuk itu, wajarlah bila Ivan Illich ingin membebaskan masyarakat dari belenggu sekolah. Kembalikan sekolah pada fungsinya: mendidik individu agar mereka dapat mengembangkan dirinya tanpa paksaan, tanpa tuntutan yang tidak berdasar. Dan kembalikan makna pendidikan pada hakikatnya yang sangat sederhana: "mengubah individu menjadi lebih baik".
Tulisan kecil ini hanya menceritakan sedikit masalah pendidikan di Tanah Air. Di luar sana, masih banyak permasalahan yang sulit terungkap atau bahkan tidak ingin diungkap, Kita hanya mampu membayangkan, mungkinkah dunia ini akan menjadi lebih indah ketika tidak ada lagi sekolah?
Post a Comment for " Lebih Indah Tanpa Sekolah"